Penjelasan Lengkap Sindrom Patah Hati (Broken Heart Syndrome)

Penjelasan Lengkap Tentang Broken Heart Syndrome (Sindrom Patah Hati)

Broken heart syndrome atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti sindrom patah hati, merupakan kumpulan gejala yang mirip dengan gejala-gejala pada serangan jantung, terjadi sebagai respons terhadap stres fisik ataupun emosional. Kebanyakan penderita merasa sedang mengalami serangan jantung, karena gejalanya yang mirip, seperti sesak napas dan nyeri dada. Namun, tidak mengalami penyumbatan pada arteri koroner, dan biasanya proses pemulihannya berjalan cepat.

Sindrom Patah Hati

Broken heart syndrome juga biasa disebut sebagai kardiomiopati Takotusubo atau kardiomiopati akibat stres, yang berarti stres telah menyebabkan terjadinya disfungsi atau kegagalan otot jantung.


Siapa saja yang rentan terhadap sindrom patah hati?

Wanita lebih rentan mengalami gejala daripada pria, terutama wanita pasca menopause dari Asia dan Kaukasia. Seringkali seseorang yang mengalami sindrom patah hati tidak memiliki gejala seperti penyakit jantung.


Apa penyebab sindrom patah hati?

Penyebabnya belum sepenuhnya diketahui. Dalam banyak kasus, gejala disebabkan oleh tekanan emosional atau fisik seperti kematian seseorang yang dicintai, perceraian, putusnya hubungan asmara, serangan asma, fisik yang lelah, bahkan bahagia yang berlebihan seperti pesta kejutan, reuni, atau menjadi pemenang suatu perlombaan.

Reaksi seseorang terhadap peristiwa semacam itu menyebabkan pelepasan hormon stres (katekolamin) yang untuk sementara mengurangi efektivitas aksi pemompaan jantung, atau menyebabkan otot jantung berkontraksi terlalu kuat atau menjadikannya tidak stabil.


Apa saja gejala sindrom patah hati?

Gejala dapat terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengalami situasi stres, dan gejalanya mirip dengan serangan jantung. Penanganan darurat harus segera dilakukan ketika mengalami gejala-gejala ini, karena tidak ada cara untuk menentukan penyebabnya tanpa adanya pengujian dan diagnosis yang tepat oleh dokter.

Gejala Broken Heart Syndrome meliputi:

  1. Angina (nyeri dada yang tiba-tiba dan parah)
  2. Sesak napas
  3. Aritmia (detak jantung tidak teratur)
  4. Syok kardiogenik (ketidakmampuan jantung untuk memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh)
    Dampak dari hormon stres yang melemahkan sel-sel jantung, sehingga menyebabkan jantung tidak berfungsi dengan baik. Efek ini biasanya hilang dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, dan tidak menyebabkan kerusakan jantung permanen.
  5. Pingsan
  6. Tekanan darah rendah
  7. Gagal jantung

Bagaimana diagnosa sindrom patah hati?

Pemeriksaan diagnostik meliputi :

  1. Pemeriksaan fisik dan riwayat medis pasien
  2. EKG (elektrokardiogram) untuk mengukur aktivitas jantung
  3. Angiografi koroner (menggunakan pewarna dan sinar-X untuk mendapatkan gambaran di dalam arteri jantung)
  4. Ekokardiografi (menggunakan gelombang suara untuk menangkap gambar bergerak dari aktivitas jantung)
  5. Sinar-X pada rongga dada (menganalisis struktur jantung, paru-paru, dan pembuluh darah)
  6. MRI Jantung (magnetic resonance imaging) (untuk melihat gerakan jantung)
  7. Ventriculogram (menggunakan pewarna yang disuntikkan ke ventrikel kiri jantung untuk mengambil gambar sinar-X yang akan menunjukkan efisiensi pemompaan di ruang jantung)

Berdasarkan hasil pemeriksaan, sejumlah petunjuk dapat digunakan untuk membedakan antara sindrom patah hati dan serangan jantung :

  1. Sindrom patah hati muncul secara tiba-tiba, akibat adanya stres.
  2. EKG akan menunjukkan aktivitas listrik jantung tidak normal, tetapi berbeda dengan perubahan yang terlihat pada serangan jantung.
  3. Tes darah tidak menunjukkan kerusakan pada jantung.
  4. Arteri jantung tidak mengalami penyempitan.
  5. Ventrikel kiri (bilik jantung kiri bawah) menunjukkan pembesaran dan kontraksi yang tidak biasa, hal ini tidak terjadi pada serangan jantung.
  6. Biomarker jantung (zat yang dilepaskan ke dalam darah ketika jantung rusak atau stres) lebih tinggi dari normal, tetapi tidak setinggi ketika mengalami serangan jantung.

Bagaimana cara penanganan sindrom patah hati?

Awalnya, gejala akan diobati seperti yang terjadi pada serangan jantung. Setelah diagnosis dibuat, Broken Heart Syndrome diobati dengan obat-obatan seperti :

  1. ACE inhibitor untuk menurunkan tekanan darah.
  2. Beta blocker untuk memperlambat denyut jantung.
  3. Diuretik untuk mengurangi penumpukan cairan.
  4. Obat-obatan anti-kecemasan untuk meredakan stres.

Perawatan seperti angioplasti, penempatan stent, dan operasi digunakan untuk mengobati serangan jantung, tetapi tidak digunakan dalam kasus sindrom patah hati karena tidak terjadi penyumbatan pada arteri.


Apa komplikasi yang terkait dengan sindrom patah hati?

Kadang-kadang, sindrom patah hati dapat menyebabkan masalah jantung yang serius seperti:

  1. Jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
  2. Pola detak jantung yang jauh lebih cepat atau lebih lambat dari biasanya.
  3. Kerusakan katup jantung.
  4. Cadangan cairan di paru-paru meningkat.
  5. Tekanan darah rendah.

Dapatkah sindrom patah hati dicegah?

Belum diketahui secara pasti pencegahan sindrom patah hati, tetapi mempelajari cara mengatasi stres, pemecahan masalah pribadi, dan teknik relaksasi dapat membantu dalam meningkatkan kesehatan tubuh dan mental. Mengelola stres juga dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dan obat-obatan anti-kecemasan.

Penting juga untuk menghindari pilihan yang buruk dalam mengelola stres seperti minum minuman beralkohol, makan berlebihan, penggunaan narkoba atau merokok. Ini bukan solusi yang baik, bahkan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius.


Bagaimana prospek / prognosis untuk pasien dengan sindrom patah hati?

Meskipun sindrom patah hati kadang-kadang bisa berakibat fatal, kebanyakan penderita pulih dalam beberapa hari atau minggu. Tidak ada kerusakan permanen pada otot jantung, dan memiliki risiko yang kecil untuk mengalami kekambuhan (tidak lebih dari 10 persen kasus). Sebagai perbandingan, waktu pemulihan dari serangan jantung bisa berbulan-bulan.

Dokter mungkin akan merekomendasikan tindak lanjut ekokardiogram sekitar 4 hingga 6 minggu setelah pasien keluar dari rumah sakit, dan kunjungan rutin ke dokter mungkin diperlukan tergantung pada spesifik kasus pasien.



PENGGUNAAN DAN INFORMASI PENTING :

Informasi ini dimaksudkan untuk melengkapi, bukan menggantikan saran dari dokter atau penyedia layanan kesehatan Anda.

Informasi ini mungkin tidak sesuai dengan kondisi kesehatan spesifik Anda. Jangan pernah menunda atau mengabaikan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis profesional atau penyedia layanan kesehatan lain yang memenuhi syarat.

Anda harus selalu berbicara dengan dokter atau perawat kesehatan profesional sebelum memulai, menghentikan, atau mengubah bagian yang ditentukan dari rencana perawatan kesehatan Anda. Dan untuk menentukan program terapi apa yang tepat untuk Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *